Ambilkan bulan Bu,
ambilkan bulan Bu
yang s’lalu bersinar di langit
di langit bulan cemerlang
cahayanya sampai ke bintang
ambilkan bulan Bu
untuk menerangi
tidurku yang lelap di malam gelap
Pikiran manusia merupakan sumber kekuatan yang luar biasa dan apabila tidak diarahkan dengan tepat bisa menjadi pemicu bencana dahsyat yang juga luar biasa daya rusaknya. Sebaliknya, bila kekuatan pikir yang besar ini memiliki nilai-nilai spiritual yang sejuk, ia dapat menjadi saluran kedamaian yang juga bisa berdampak besar. Seorang Nabi, Filsuf, Rhsi, Begawan, Kiai, Pendeta, dll mungkin bisa dijadikan contoh sebagai orang yang bisa mengelola kekuatan pikiran untuk hal-hal yang positif. Tetapi juga banyak deretan nama orang yang bisa disusun sebagai contoh pemicu ketidakharmonisan universal, dan tidak beruntungnya (baca : sialnya) orang-orang ini biasanya memiliki pengetahuan yang relatif baik, bahkan bisa merupakan seseorang yang terpelajar.
Pendidikan seharusnya lebih dari sekedar memisahkan ilmu pengetahuan dan keterampilan untuk meraih tujuan yang sempit. Pendidikan juga semestinya membuka mata seseorang bagi kebutuhan dan hak-hak sesamanya. Aksi dan reaksi individu akan memiliki dimensi universal, oleh karena itu pendidikan juga harus menanamkan empati dan rasa tanggung jawab terhadap lingkungannya yang bersifat global. Memang, seandainya antara pengetahuan dan kebajikan selaras jalannya dan membaur diri, maka hal itu akan lebih bernilai. Memiliki kepandaian yang tinggi dengan hati yang baik (berakhlak mulia), yang merupakan buah dari kebajikan, adalah anugerah besar bagi kemanusiaan. Hanya ilmu pengetahuan semata, jelas akan mengurangi manfaatnya.
Kondisi aktual dewasa ini, dalam sudat pandang sempit gramatikal bahasa, telah mengalami berbagai distorsi dan degradasi. Nilai-nilai kemanusiaan, batasan tabu, bahkan struktur semantik yang biasanya berlangsung sangat lama, tiba-tiba menjadi sangat cepat berubah makna. Sebuah kata kemudian mengalami metafora, tanpa peduli etimologinya lagi. Kadang-kadang, pendidikanpun terseret arus deras perubahan ini, terutama yang berkaitan dengan moral dan etika. Padahal seharusnya ia merupakan benteng kokoh yang akan tetap memfungsikan pertahanan diri yang dibangun sejak dini, mulai dari kanak-kanak.

Lalu, bagaimana seharusnya mengajarkan moralitas kepada anak-anak kita? Pada umumnya, sistem pendidikan modern di kota besar biasanya mengabaikan pembahasan tentang masalah-masalah etika. Sistem pendidikan ini dikembangkan ketika institusi-institusi religius masih sangat berpengaruh di seluruh lapisan masyarakat. Karena nilai-nilai etika dan budaya sebelumnya masih dianggap termasuk dalam ruang lingkup religi maka ada persepsi bahwa pendidikan anak mengenai moral dan etika otomatis akan terpelihara melalui mekanisme itu.

Semua itu masih berfungsi dengan baik sampai pengaruh religi mulai surut. Walaupun kebutuhan akan agama masih ada namun kadang-kadang tidak terpenuhi karena berbagai sebab dan kendala, sehingga harus menemukan sejumlah cara lain dalam menunjukkan kepada anak-anak bahwa nilai-nilai kemanusiaan yang mendasar itu adalah hal yang sangat perlu, di samping itu juga harus membantu mereka untuk mengembangkan nilai-nilai itu. Di sinilah peran penting sebuah mekanisme pembelajaran informal dibangun. Bisa melalui kebersamaan dalam bermain, bisa pula dengan mengadakan pembekalan keimanan mereka melalui pengajian, persekutuan, atau les-les keagamaan pribadi. Namun demikian, sebaiknya lingkungan di mana mereka tumbuh juga menciptakan suasana teduh untuk hal-hal seperti itu.

Sudah barang tentu kepedulian terhadap sesama dipelajari bukan dari kata-kata melainkan dari aksi atau tindakan: panutan yang diperagakan. Keluarga adalah komponen yang sangat vital dalam pendidikan anak-anak. Jika atmosfir peduli dan welas asih hilang dari rumah, jika anak-anak terabaikan oleh orang tua mereka, maka dapat dipastikan akan ada dampak yang merugikan. Anak-anak cenderung merasa tak berdaya dan tidak aman, bisa juga pikirannya sering tersiksa. Sebaliknya, apabila anak-anak menerima kasih sayang yang tetap dan perlindungan, mereka cenderung untuk menjadi kian bahagia dan lebih percaya diri akan kemampuannya. Kesehatan fisik mereka juga cenderung kian membaik.
Akhirnya, pendidikan dan kebajikan memang merupakan khasanah para ahlinya sendiri, namun demikian bukan berarti orang-perorang yang awam tentang itu dilarang untuk sekedar membicarakannya, demi anak-anak agar tidak terasingkan dari dunia dan budayanya sendiri.
Salam,
Pakne Thole K87

